Kini…
dari sini…
di tempat ini…
ku sedang menatap masa depan yang sedang melambai-lambaikan tangannya untuk ku rengkuh…
sesegera mungkin aku meliriknya meski sekejap…
lalu aku pun tersenyum padanya…
bersama senyuman yang penuh dengan makna…
hingga ku tiada mampu menyampaikan hanya lewat susunan kata-kata yang tercipta…
l == demi masa depan == l
Ya,
kini…
dari sini…
di tempat ini…
ada sekelumit rasa yang menaungi jiwa….
lalu ia berkata, “Kamu bisa, ketika engkau berkata ‘bisa’”.
begini ia hadir lebih cepat memenuhi pikiranku…
ketika dalam waktu yang lebih lama ku sempat terdiam dalam pandangan yang semakin lepas…
ku hanya inginkan bantuannya untuk terus menyemangatiku dalam melanjutkan langkah-langkah ini…
l == padamu wahai jiwaku, sahabat sejati == l
Wahai sahabat,
kini…
dari sini…
di tempat ini…
ku sedang dalam upaya nyata…
untuk mengalahkan diriku sendiri…
menangkis segala serangan yang ia coba tembakkan…
menangkap berbagai peluang yang ia telah sampaikan…
untuk ku isi dengan segala kemauan…
l == untukmu wahai diriku, tersenyumlah == l
Sungguh…
kini…
dari sini…
di tempat ini…
ku haturkan terima kasih terdalam…
untuk para sahabat sekalian…
yang masih ada hingga saat ini untukku…
“Engkau sumber inspirasi bagiku. Kehidupanmu adalah warna-warni hariku”.
l == padamu wahai sahabat, mohon do’anya yaa == l
Kini…
hari ini…
di sini…
ketika perpisahan ini benar-benar terjadi…
Ibu pergi untuk sementara waktu…
entah kapan beliau kembali lagi…
aku tidak tahu pasti…
akan tetapi beliau telah menitipkan banyak tugas mulia…
kepercayaan…
harapan…
dan kewenangan…
serta senyuman…
“Terima kasih wahai Ibu”.
l ** wahai Ibu, kita akan saling merindukan ** l







